SARASEHAN ONLINE DENGAN PEDAGANG, BEGINI JAWABAN GIBRAN SAAT DITANYA CARA PULIHKAN EKONOMI PASAR DI TENGAH PANDEMI

Calon Wali Kota Solo dari PDI Perjuangan Gibran Rakabuming Raka (33) melakukan jagongan online dengan para pedagang pasar dari berbagai kecamatan Surakarta, Kamis (19/11/2020) malam melalui aplikasi zoom meeting.

Dialog intens terjadi antara pengusaha brand Tugas Negara Bos itu untuk mencari jalan tengah mengenai pemberdayaan pasar tradisional. Adanya rencana Pasar Kabangan dan Pasar Jongke yang akan digabungkan menjadi satu area dan dibangun berlantai dua menuai keberatan pedagang.

Menyikapi hal tersebut, Gibran pun menanggapi, “Ini dulu memang Pasar Kabangan mau dijadikan satu sama Pasar Jongke karena pemerintah ingin menggenjot pariwisata di Kampung Batik Laweyan. Kita terkendala untuk mendatangkan bis-bis pariwisata ke situ, gak ada parkirnya. Menyatukan 2 pasar ini juga tidak mudah, karena lahan terbatas. Harapannya kita bisa diskusi lagi, cari solusi yang terbaik,” tandas pria lulusan MDIS itu.

Gibran lanjut ditanya para pedagang mengenai program lompatan untuk memajukan pasar tradisional di tengah pandemi, “Soal omzet menurun semua pasar mengalami. Yang bisa kita lakukan adalah memperketat protokol kesehatan di tiap-tiap pasar. Pasar itu pusat kegiatan produktif, jangan sampai tutup karena ada pedagang yang positif Covid-19. Penularan riskan ketika transaksi, Saya mengajukan usulan, kan sudah ada e-retribusi, kalau pembayarannya cashless itu Bapak-Ibu siap atau tidak? Ini dari pemerintah akan lebih bisa mengontrol PAD. Jadi kita tidak kalah dengan mall-mall,” terang Gibran yang dibalas ucapan ‘Siap’ dari para pedagang.

Sementara itu, perwakilan pedagang Pasar Jebres mengeluhkan pedagang liar yang berjualan di luar pasar. Hal yang sama juga dialami oleh pedagang di Pasar Sibela Mojosongo, “Banyak yang jualan di sekitar jalan Jaya Wijaya, sehingga bikin macet dan kumuh. Harapannya lebih ditertibkan lagi.”

“Nggih, Pak. Nanti aturan kita perketat. Saya perhatikan memang ketika Satpol PP bergerak, pedagang tertibnya hanya sehari-dua hari, kemudian balik berjualan lagi di tempat yang sama,” Gibran menanggapi.

Banyak para pedagang yang mengeluh ketika bangunan pasar sudah direnovasi malah berakibat sepi, terlebih di lantai dua. “Sudah saya catat soal keluhan ini, mungkin yang bisa jadi percontohan adalah Pasar Gemblekan, harusnya layout pembangunan pasar bisa lebih dirapikan lagi, sehingga tidak dua lantai. Hal ini butuh dialog khusus, harus ada win-win solution jangan sampai ada yang dirugikan,” ujar Gibran.

Terkait beberapa pasar yang sepi, Gibran mendorong adanya gelaran event-event dan pemberian kupon pada pembeli, “Ini sudah dilakukan Pak Rudy sebelumnya. Kita akan godok lagi event-nya seperti apa, sehingga pasar kembali ramai pembeli, roda ekonomi bisa berputar kembali,” jelas ayah Jan Ethes itu.

Keluhan lain ialah mengenai sarana dan prasarana penunjang pasar yang butuh peningkatan dan perawatan berkelanjutan. Gibran mencatat adanya atap bocor di Pasar Kleco, sound system rusak di musala Pasar Kabangan, rawan terjadi genangan air di Pasar Klitikan Notoharjo saat turun hujan, sempitnya musala dan MCK di Pasar Gede, hingga permintaan adanya ATM di Pasar Klitikan.

Di akhir diskusi daring yang berlangsung sekitar 2 jam itu, melalui Warjo selaku Ketua Paguyuban Bala Pasar, Gibran ingin menggenjot pembagian masker dan hand sanitizer pada pedagang untuk antisipasi penyebaran Covid-19 selama berjualan. “Saya minta tolong agar semua pedagang dapat, terdistribusi merata, nggih, Pak,” pintanya.

Lilm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *