Berebut Kursi di Kala Pandemi

Saat awal pandemi kemarin, banyak pihak membagikan buku-buku untuk diunduh secara online. Buku-buku yang semula tak bisa diakses bebas oleh masyarakat umum. Salah satu buku yang dibagikan berjudul On the Subject of “Java”, karya John Pemberton. Beliau melakukan studi di Soloraya pada tahun 1982. Pada pembuka di buku tersebut, Pemberton menceritakan tentang tradisi Methik Pari atau cukup disingkat dengan methik saja.

Methik Pari

Saat musim tuai padi tiba, penduduk pedesaan menggelar upacara syukuran untuk memulai panen. Seperti pada banyak tradisi di Jawa, makanan memegang peranan yang mencolok selain doa-doa. Makanan yang disajikan pada tradisi methik terdiri dari jenang, jadah, wajik, pisang raja, nasi gurih ,dan terutama ingkung (ayam utuh seekor). Makanan atau sesajen tersebut diperuntukan untuk Sri (lowati) sebagai lambang padi, kesuburan, dan kemakmuran. Kini, walau upacara tersebut masih ada di pedesaan, doa yang diucapkan sudah berganti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seusai doa-doa dipanjatkan, pemuka agama setempat kemudian menyuruh anak-anak untuk mebuat kerumunan. Kerumunan kemudian dibagi dua dengan ingkung tadi berada di tengah-tengah kerumunan. Lalu setelah aba-aba diberikan, para anak kecil tersebut saling berebut ingkung ayam. Saling sikut dan berdesakan antar anak-anak kecil mewarnai prosesi tersebut. Rebutan berakhir setelah pemuka agama menyuruh mereka untuk berhenti. Setelahnya rebutan ingkung tadi, makanan kemudian disajikan untuk dilahap bersama.

Semangat Rivalitas dalam Rebutan

Perilaku rebutan yang diperlihatkan dalam tradisi di atas menggambarkan beberapa hal. Yang pertama, keberuntungan tidaklah sesuatu yang mutlak. Ia harus diperebutkan dahulu. Ada usaha dalam meraih keberuntungan. Saat semua daya upaya telah terpenuhi, masyarakat Jawa akan mengembalikan otoritas keberuntungan tadi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tempat menggantungkan harapan adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian yang kedua adalah semangat rivalitas yang ditanamkan sejak dini. Ini tampak pada tradisi methik pari tadi. Anak-anak sejak dini diajarkan untuk berusaha ke tahapan maksimal agar memperoleh hasil yang juga sepadan. Tradisi ini juga menggambarkan bagaimana sebuah kekuasaan haruslah diupayakan. Jika ingin memperoleh kekuasaan tetaplah harus berusaha.

Terakhir, dari contoh tradisi di atas, hasrat atau ambisi untuk rebutan haruslah ada. Namun tidak boleh terlalu besar atau serakah. Hasil dari rebutan tadi haruslah digunakan untuk kepentingan bersama. Ambisi yang terlalu besar tidak disukai, tapi terlalu kecil juga tidak menarik. Meraih kekuasaan haruslah diupayakan. Luaran dari kursi kekuasaan haruslah demi kepentingan rakyat banyak semata. Berkaca dari tradisi di atas, berebut kekuasaan di tengah pandemi adalah hal yang lumrah. Tentu dengan modifikasi-modifikasi yang efektif dan efisien. Beban yang dipikul oleh tidak saja para kandidat pemimpin, tapi juga KPU dan konstituen lebih berat. Diharapkan para kandidat lebih bijak dalam melakukan upaya perebutan kekuasaan di saat pandemi. Kampanye yang dilakukan oleh kandidat beserta tim suksesnya jangan sampai menyengsarakan konstituen. Jangan pula menyengsarakan tenaga kesehatan. Dan saat terpilih, akan benar-benar menjalankan amanat yang telah diberikan oleh rakyat.

Hendro Prabowo

Relawan Koncone Gibran

Penduduk Bumi yang tinggal di Laweyan, Kota Solo.

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *