Marhaenisme Soekarno dan Driver Ojol

Definisi Marhaenisme pada tulisan ini merujuk pada buku Presiden Soekarno yang berjudul “Indonesia Menggugat”. Indonesia Menggugat sendiri adalah judul pidato pembelaan beliau pada persidangan di Bandung. Tuduhan yang dikenakan adalah usaha penggulingan kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1930. Dalam buku tersebut, Soekarno sebenarnya kerap menggandeng kata “kaum Marhaen” dengan “kaum Kromo”.

Kaum Kromo dan Marhaen

Kaum Kromo sendiri menurut Haji Misbach, tokoh komunisme islam Surakarta pada tahun 1914, adalah kaum miskin tanah Jawa. Kaum miskin yang tak mempunyai alat produksi pun modal. Yang kelebihan nilainya dihisap oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda beserta para pengusahanya (Syamsul Bakri, 2015). Definisi ini sesuai dengan paham yang Haji Misbach anut kala itu yaitu, komunisme. Hanya saja menggunakan idiom Jawa alih-alih “proletar” yang berbahasa asing. Idiom “kaum Kromo” digunakan agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat Jawa. Musuh Kaum Kromo tentu saja adalah kapitalisme.

Sedangkan Kaum Marhaen yang digunakan Soekarno dalam Indonesia Menggugat lebih merujuk pada kaum miskin lainnya. Mereka yang mempunyai alat produksi, modal, maupun keduanya tapi tetap miskin. Mereka miskin karena dihisap oleh sistem yang dibentuk oleh kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Di mana kekayaan yang dihasilkan oleh penghisapan tersebut digunakan untuk kepentingan segelintir orang saja. Sampai tahun 1942 idiom Kaum Kromo masih banyak digunakan oleh kaum pergerakan hingga memudar saat penjajah Jepang datang.

Idiom Marhaen kembali hadir saat Indonesia merdeka dengan pembaharuan tentunya. Musuh yang dihadapi bukan lagi kolonialisme, tapi neo-kolonialisme dan imperialisme (Neokolim). Kapitalisme berkembang melalui Neokolim tadi. Cara yang digunakan Kaum Marhaen dalam menghadapi musuh barunya tetap sama. Antara lain, pengorganisasian diri, pendidikan, dan lainnya. Ajaran-ajaran Soekarno tentang antitesa kapitalisme ini kemudian hari bernama Marhaenisme.

Pasca 1965, Marhaenisme mendapat stigma buruk dari rezim Orde Baru (Orba). Orba mengatakan bahwa Marhaen adalah singkatan dari kata-kata Marx, Hegel, dan Engels. Ketiga orang tersebut adalah tokoh utama dari arus komunisme (Soegiarso Soerojo, 1988). Penyematan komunisme pada diri Soekarno ini berlangsung secara menyeluruh dan terstruktur. Tujuannya adalah hegemoni politik rezim Orba terhadap kaum nasionalis saat itu. Saat reformasi datang, zaman benar-benar telah berubah dengan datangnya internet. Namun stigma buruk komunisme tetap saja tersematkan pada Marhaenisme. Stigma buruk itu terasa hingga tahun 2019 saat Pemilu. Bagaimana menjijikannya kampanye hitam mengenai komunisme pada PDI Perjuangan. PDI Perjuangan dianggap sebagai partai penerus Marhaenisme Soekarno

Marhaenisme Kekinian

Perkembangan zaman yang ditandai dengan internet ini harus ditanggapi secara serius oleh Marhaenisme. Agar Marhaenisme tidak menjadi paham kuno yang mudah dilupakan oleh generasi muda. Beberapa jenis alat produksi, dan modal tentu sudah tidak sama lagi dengan tahun 1930. Begitu juga dengan cara penguasaannya. Hal ini mengubah juga cara beradaptasi menghadapi kapitalisme yang tentu saja telah berkembang.

Sebagai contoh adalah pengemudi ojek online (ojol). Walau sebutannya mitra, pengemudi ojol pada dasarnya adalah buruh pekerja. Marhaen masa kini. Pengemudi ojol mempunyai modal dan alat produksi. Oleh pemilik modal, pengemudi ojol harus mempunyai kendaraan dengan kriteria tertentu, semisal tahun pembuatan yang muda. Pengemudi juga harus mempunyai gadget atau ponsel pintar serta fasih, dan bijak dalam menggunakannya. Perilaku pengemudi (mitra) dalam berkendara juga jadi pertimbangan pemilik aplikasi ojol dalam merekrut mitranya. Hal-hal yang belum ada bahkan lima tahun yang lalu.

Tentu saja masalah yang dihadapi terhadap kelebihan nilai yang terhisap oleh pemilik modal berbeda dengan masa lalu. Lebih remang-remang daripada masa lalu. Yang terlihat jelas hanyalah para pemilik modal jauh lebih makmur hidupnya daripada pengemudi ojol. Bagaimana para pemilik modal ini mengeruk keuntungan dari internet, dan menggunakan nilai lebih pengemudi ojol, adalah hal yang perlu dipelajari dengan teliti. Setelahnya, baru bisa ada praxis dari Marhaenisme yang mampu menghadapi perkembangan zaman.

Masa awal pandemi SARS-Cov-2 membuat pengemudi ojol tidak boleh membawa penumpang. Saat ini sudah ada peraturan dari para pemegang kebijakan yang membolehkan pengemudi ojol membawa penumpang. Namun penumpang masih takut. Ada pertimbangan “jaga jarak”. Serta pertimbangan bahwa saat ini masih belum “new normal”. Bahwa sesungguhnya Indonesia masih dalam fase satu pandemi.

Di sinilah para ahli marhaenisme bisa mengambil peran. Berdiskusi dengan cermat. Mengambil rujukan-rujukan secara ilmiah. Lalu dengan tepat memberi saran kepada pemegang kebijakan. Saran-saran yang akan membuat kaum Marhaen kekinian tidak lagi hidup terhisap oleh kaum pemodal. Saran-saran yang juga sanggup membuat kaum Marhaen keluar dengan selamat dari bencana wabah Corona ini. Dan tentu saja para pemegang kebijakan mendengar serta melaksanakan saran-saran tadi.

Hendro Prabowo

Relawan Koncone Gibran

Penduduk Bumi, Laweyan, Surakarta

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *