Politik dan Sepak Bola; Apa Bedanya?

Umar Kayam, sosiolog UGM dan mantan dirjen radio, televisi dan film, sering menulis tentang persaingan antara masyarakat kota Surakarta (Solo) dengan Yogyakarta dalam esai-esainya yang cair. Salah satunya adalah tentang suporter sepak bola. Umar Kayam menulis esai tersebut berdasarkan ingatan beliau saat masa kecil di Solo (tahun 1940an). Beliau mengingat perilaku dari suporter Persis (Persatuan Sepakbola Indonesia Surakarta) saat melawan PSIM (Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram) Yogyakarta.

Perkelahian antar Suporter

Saat dua kesebelasan tersebut bertemu di lapangan, para suporter saling melontarkan ejekan. Ejekan-ejekan jadul seputar identitas masyarakat Mataram, seperti perkara bentuk blangkon. Bentuk blangkon kota Solo, tidak ada bulatan di belakangnya. Hanya perkara itu saja, para suporter bisa saling baku hantam. Tidak sebrutal sekarang tentunya. Tetap saja mereka berkelahi. Bagi para suporter tersebut, sepak bola adalah jalan hidup mereka.

Kekinian, perkelahian antar suporter mencapai titik terbrutalnya. Nyawa seperti tidak ada harganya. Menyukai sepak bola sampai bertaruh nyawa. Motivasi dari para suporter dalam melakukan kekerasan tentu sudah beragam. Dulu saat Umar Kayam masih kecil, perkelahian dilakukan karena persaingan antar daerah bekas kerajaan Mataram. Saat ini, fanatisme mampu membutakan mata para suporter tersebut.

Hindari Fanatisme Buta

Kita semua tentu sepakat bahwa menjadi suporter sepak bola tidak layak hingga harus bertaruh nyawa. Mendukung tim kesayangan tidak perlu sampai baku hantam. Membeli tiket pertandingan dan merchandise resmi bisa jadi bentuk dukungan terhadap tim kesayangan kita. Bahkan, jika kita berperilaku sopan pun bisa jadi bentuk dukungan tersebut. Orang akan mengingat bahwa pendukung klub adalah suporter yang sopan. Maka klub sepak bola dapat nama harum dari situ. Begitu juga dalam politik. Gambaran di atas sudah sangat jelas. Rakyat Solo cerdas-cerdas. Mencintai pemimpinnya tidak boleh membabi buta. Para pendukung diharapkan memberi masukan pada pemimpinnya. Bukankah pemimpin yang baik adalah yang mendengarkan rakyatnya? Masukan tentunya berbasis data yang komplit. Pengolahan data berbasis pisau analisa yang tepat. Tidak sepotong-sepotong. Tidak asal pemimpin senang. Fanatisme buta hanya akan merusak demokrasi secara keseluruhan.

Hendro Prabowo

Relawan Koncone Gibran

Penduduk Bumi yang tinggal di Laweyan, Kota Solo.

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *