Aswatama Nglandak: Episode Kelam dalam Demokrasi

Pengangkatan Salya sebagai panglima perang dari pihak Kurawa menuai protes dari Aswatama. Perdebatan terjadi dengan sengitnya tapi argumen Aswatama seperti tidak didengarkan. Aswatama memutuskan pergi dari medan laga Kurukhsetra. Ia kembali saat perang telah usai. Kembali ke Astina untuk membunuh semua Pandawa. Pada pewayangan versi Jawa, Aswatama mati terbunuh oleh Pulanggeni, senjata yang ditaruh Kresna di bawah kaki tempat tidur Parikesit. Fragmen tersebut dikenal dengan lakon “Aswatama Nglandak”.

Brahmasiris Penghancur Kehidupan

Pada Mahabharata versi India, Aswatama masih hidup. Setelah membunuh seluruh keturunan Pandawa, Aswatama duduk di tepi sungai Gangga, bersama sekelompok pertapa. Para Pandawa hendak membunuhnya. Aswatama yang keturunan Brahmana memakai jubah ritual siap untuk mati. Aswatama kemudian mencabut sehelai rumput yang diubahnya menjadi sebuah brahmasiris, senjata pemusnah massal. Senjata itu diluncurkan sambil berseru, “Apandavaga!”—“Untuk melenyapkan para Pandawa!”. Dalam seketika muncul nyala api yang sanggup menelan dunia.

Arjuna reflek melepas brahmasiris miliknya, yang juga mempunyai kekuatan senjata pemusnah massal. Keadaan genting yang mematikan ini dipecahkan oleh tindakan para pertapa. Dua di antara mereka melompat ke tengah arena, menempatkan diri mereka berada di tengah kedua senjata maut. Lalu kedua pertapa tersebut berteriak kepada Aswatama dan Arjuna. Bahwa hanya kehancuran yang menyengsarakan rakyat jika mereka meneruskan perseteruan. Bahwa kesejahteraan seluruh mahkluk dan dunia di atas perseteruan tersebut.

Amarah Kresna

Arjuna dapat menarik kembali brahmasiris miliknya karena ia tidak dalam kondisi marah saat meluncurkannya. Sebaliknya, Aswatama tidak sanggup menarik senjata pemunah massalnya. Karena Aswatama meluncurkannya dalam keadaan marah hebat. Aswatama hanya mampu membelokkan arah brahmasiris miliknya. Senjata tersebut mengarah ke rahim para wanita di pihak Pandawa. Sehingga Pandawa tidak dapat meneruskan garis keturunannya.

Kresna marah bukan kepalang, terlebih Aswatama adalah keturunan Brahmana. Tak semestinya Aswatama berbuat semengerikan itu. Kresna lalu mengutuk Aswatama. Aswatama harus hidup dalam penderitaan selama 3000 tahun. Aswatama kemudian mesti berkelana sendirian di atas bumi, seorang penyangkal dunia yang frustasi, dengan ambisi-ambisi yang tak terpenuhi, tinggal di hutan dan tanah-tanah tak berpenghuni.

Demokrasi dan Perimbangan Kekuasaan

Kisah di atas, baik dalam versi Jawa atau India mengajarkan banyak hal. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Saat ini kita tinggal di Indonesia dengan alam demokrasi. Jika dikaitkan dengan demokrasi, ada beberap hal yang bisa diteladani dari fragmen di atas. Dalam fragmen di atas sebenarnya saat Aswatama dan Arjuna saling melempar brahmasiris milik mereka, itu adalah momen di mana keseimbangan dunia telah terjadi. Namun, di atas “keseimbangan dunia” ada yang namanya “kesejahteraan seluruh mahkluk dan dunia”.

Poin penting dalam demokrasi adalah keseimbangan dalam kekuasaan. Ada pihak-pihak yang cukup kuat dalam melakukan kontrol terhadap pemegang kekuasaan. Namun perlu diingat, keseimbangan diraih dengan cara-cara yang baik. Black campaign dan penyebaran hoax adalah cara-cara yang tidak baik dalam berdemokrasi. Tidak sehat.

Cara-cara yang tidak baik ini kemudian memunculkan rasa tidak simpati dari para konstituen. Konstituen kemudian menjatuhkan pilihan kepada pihak-pihak yang menjalankan demokrasi secara sehat. Kemudian yang terjadi adalah dominasi dari pihak-pihak yang melakukan demokrasi secara sehat. Praktik usaha untuk mendominasi dalam konteks kekuasaan adalah keniscayaan. Akan selalu ada upaya mendominasi antar kelompok yang bersaing dalam politik. Tinggal bagaimana para kelompok tersebut bijak menggunakan capital mereka.

Konstituen Cerdas Memilih Demokrasi Sehat

Untuk sesaat, praktik tidak sehat dalam demokrasi dapat mendudukkan mereka dalam kursi kekuasaan. Namun para konstituen yang cerdas paham, bahwa praktik-praktik tersebut tidaklah baik di kemudian hari. Lalu para konstituen tersebut beralih ke kelompok yang mempraktikkan demokrasi dengan cara yang sehat. Maka dari itu, marilah berdemokrasi secara sehat. Jangan lakukan black campaign. Jangan membuat dan menyebar hoax. Jangan menyalahkan pihak-pihak yang melakukan demokrasi sehat jika terjadi dominasi. Pihak-pihak yang dominan haruslah melakukan upaya “kesejahteraan bagi seluruh mahkluk dan dunia” dalam berdemokrasi.

Hendro Prabowo

Relawan Koncone Gibran

Penduduk Bumi yang tinggal di Laweyan, Kota Solo.

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *