Manusia Jawa dan Eropa; Sebuah Eksposisi pada Fragmen Mangkunegaran

Prolog oleh Kuat Hermawan Santoso
Dasar Etik Pikiran Lompatan Gibran

Cuaca kota Solo pada bulan September sangatlah panas. Lembab. Kadar air yang tinggi di udara menyebabkan keringat tidak cepat mengering. Segelas es teh manis dingin sangat cocok untuk mendinginkan badan. Syahdan, es teh manis pertama kali hadir di Hindia Belanda adalah di kota Solo. Teh hitam dari perkebunan di kabupaten Karanganyar terkenal harum saat diseduh. Saat dingin lalu dikasih es batu ternyata enak sekaligus menyegarkan. Perdebatan tentang siapa priyayi yang mempunyai ide brilian tersebut masih terjadi hingga kini. Apakah priyayi dari dinding Kraton Kasunanan ataukah dari Pura Mangkunegaran? Yang jelas, es teh manis hadir ketika bahan-bahan pembuatnya telah lengkap. Daun teh hitam, gula, dan es batu. Bahan terakhir inilah yang hadir di kota Solo pada tahun 1902, bersamaan dengan dibukanya perusaahan listrik pertama di Surakarta.

Dua Bersatu Demi Terang Sebuah Kota

Perjanjian Giyanti dan Salatiga menyisakan luka mendalam pada kerajaan Mataram. Akibat dari perjanjian-perjanjian tersebut, bumi Mataram terpecah menjadi tiga bagian, Kraton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Pura Mangkunegaran. Mangkunegaran mempunyai daerah kekuasaan di Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Pura Mangkunegaran sendiri terletak di pinggir Kali Pepe yang dibangun pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi.

Perpecahan di masa lampau tersebut tidak menyurutkan tekad para bangsawan untuk memajukan daerahnya. Satu abad setelah perjanjian Salatiga, para penerus dari Kasunanan dan Mangkunegaran bahu membahu untuk membuat sebuah perusahaan listrik milik pribumi. Mereka adalah Paku Buwana (PB) X dan Mangkunegara (MN) VI. Pada tahun 1902, mereka mendirikan sebuah unit genset pembangkit tenaga listrik berkapasitas dan bertegangan tinggi dengan tenaga diesel.

Nama perusahaan tersebut adalah NV Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM) yang terlibat dalam pengelolaan, pengadaan, dan perawatan lampu-lampu jalan. Kemudian berkembang menjadi distributor listrik bagi instalasi keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, perkantoran pemerintahan Hindia Belanda, perumahan umum serta pabrik-pabrik perkebunan (Priyatmoko, 2011).

Letak SEM ini di Purwosari. Dekat dengan stasiun yang mempunyai jalur ke arah Boyolali. Di mana sentra olahan susu segar dan daging sapi membutuhkan pengawetan berupa es batu. Maka dibangunlah pabrik-pabrik es batu di seputaran Purwosari tersebut. Langkah PB X dan MN VI dalam membangun perusahaan listrik ternyata semakin menggeliatkan roda perekonomian kota Solo. Siapakah sesungguhnya sosok MN VI tersebut? Berikut di bawah fragmen singkat dari kehidupan beliau.

Mangkunegara VI Membangun dari Abu

Hubungan antara PB X dan MN VI sebenarnya sangat unik. Semangat rivalitas dan persaudaraan kental mewarnai hubungan mereka. Alkisah Susuhunan Pakubuwono X merasa malu dalam sebuah acara yang diadakan Mangkunegaran. Pasalnya, Susuhunan berjanji akan datang pukul 21.00, namun ketika ditunggu hingga pukul 21.30 dirinya tak kunjung terlihat. Mangkunegara VI pun langsung memerintahkan gerbang istana ditutup. Maka ketika Susuhanan tiba, dia tak bisa masuk.

Di lain waktu, Susuhunan kembali kena “tembak”. Tanpa pemberitahuan, Susuhunan menginap di sebuah pesanggrahan di Karanganyar, wilayah kekuasaan Mangkunegaran, untuk berburu. Begitu pulang, dia langsung mendapat surat tagihan dari Mangkunegaran. Jumlahnya, 100 gulden untuk biaya penginapan per malam dan 50 gulden untuk denda karena Susuhunan melepaskan tembakan tanpa izin khusus di wilayah Mangkunegaran (Historia, 2019).

Dua kisah di atas menunjukkan bagaimana MN VI sangat disiplin. Semua harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tertib administrasi. Ada pemakluman terhadap pelanggaran, tapi tidak longgar juga. Keterlambatan 30 menit pada cerita pertama masih bisa ditolerir. Lebih dari 30 menit, peraturan harus ditegakan. Di lain sisi, PB X merupakan pribadi yang tidak mudah marah. Apalagi terhadap tindakan yang diambil oleh saudara mudanya tersebut. Perilaku politik dan kenegarawan khas Jawa ditunjukan pada dua kisah tersebut.

MN I atau Pangeran Sambernyawa membangun kerajaannya dari ketiadaan. MN VI membangun kerajaannya dari “abu”. Warisan kekayaan yang ditinggalkan Mangkunegara IV sebesar 25 juta Gulden pada tahun 1881 ternyata tak bertahan lama. Kehancuran keuangan Pura Mangkunegaran itu, di samping karena faktor resesi ekonomi dunia, juga akibat rusaknya tanaman kopi dan tebu milik Mangkunegaran karena diserang hama. Selain itu, juga akibat kesalahan manajemen keuangan praja dari Sri Mangkunegara V sendiri, yakni masih besarnya pengeluaran keuangan praja seperti ketika Mangkunegara IV berkuasa. Semua habis, bahkan meninggalkan utang (Historia, 2019)

Menghadapi keadaan carut-marut itu, Mangkunegara VI langsung mengeluarkan kebijakan pembaruan begitu naik takhta. Langkah pertama yang diambilnya, memisahkan keuangan negara dengan keuangan pribadi dan keluarga. Dia mengatur bahwa uang yang diperoleh dari laba perusahaan-perusahaan, pabrik-pabrik, dan harta milik lain yang akan diurus tersendiri dari sewa tanah, dan semua penerimaan sejenis, termasuk bunga dari modal yang didepositokan, dikelola langsung serta digunakan semata untuk kepentingan praja. Untuk keperluan itu, Mangkunegaran membentuk Kas Praja.

Langkah pembaruan kedua yang diambil Mangkunegara VI adalah penghematan dan efisiensi penggunaan aset praja. Penghematan itu antara lain berupa pemotongan papanci (uang jatah/semacam gaji tetap). Berdasarkan kebijakan yang dibuatnya itu, Mangkunegara VI hanya menerima papanci sebesar f3000, lebih sedikit dibanding pendahulunya yang menerima f5000. Mangkunegara VI juga menghapus sejumlah tunjangan di luar papanci (uang jatah) yang diterima para anggota keluarga raja.

Bukan hanya itu, Mengkunegara VI juga menyederhanakan atau mengurangi berbagai upacara –semisal upacara inaugurasi– dan pesta yang dianggap pemborosan, atau pertunjukan seni. Pementasan wayang untuk memperingati hari lahir raja yang berkuasa, misalnya. Pertunjukan itu biasanya berlangsung semalam suntuk. Namun demi penghematan dan menjaga kondisi kesehatan para pegawai keraton, Mangkunegara VI mengubahnya jadi hanya empat jam, pukul 20.00-24.00.

Sementara, wayang orang hanya boleh dipertunjukkan dalam bentuk fragmen. Wayang kulit hanya diperbolehkan dipentaskan pada peristiwa-peristiwa besar. Klenengan yang merupakan kebiasaan di Mangkunegaran, hanya diadakan setiap Jumat. Sejalan dengan itu, reorganisasi dan rasionalisasi juga digulirkan. Jumlah pegawai yang dinilai kurang fungsional dikurangi, dan pegawai yang kurang cakap diganti dengan yang lebih kompeten. Di bidang militer, Mangkunegara VI merombak Legiun Mangkunegaran dengan penghapusan pasukan artileri dan pengurangan jumlah personil pasukan kavaleri.

Kebijakan penghematan dan efisiensi seperti terurai di atas merupakan gejala baru dalam budaya politik Jawa, sebab dalam banyak kasus justru seorang raja itu ingin menunjukkan kebesarannya di hadapan rakyatnya dengan melakukan pemborosan yang luar biasa. Keborosan yang luar biasa ini terjadi juga di wilayah Amerika Utara pada suku Indian. Para ahli antropologi menemukan kesimpulan bahwa keborosan dilakukan untuk kelanggengan kehidupan suku tersebut. Hal ini kemudian yang menimbulkan resistensi di kalangan bangsawan.

Mereka itulah yang kemudian berupaya menumbangkan sang raja dengan cara mengadukan kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa RM Soejono (MN VI) bukan anak sah Mangkunegara V. Alasan mereka, Soejono lahir sebelum ibunya menjadi istri resmi Mangkunegara V. Mangkunegara VI pun malu dan mengundurkan diri. Namun, dia telah mewariskan beberapa fondasi penting di samping kekayaan sebesar 10 juta Gulden kepada praja dan mengembalikan kondisi keuangan menjadi sehat.

Tiang-tiang Kokoh Mangkunegara IV

Apa yang dilakukan oleh MN VI di atas tentu tidak lepas dari peran serta jagad besar dan kecil beliau. Kemajuan zaman sebagai presentasi jagad besar turut dalam membentuk MN VI. Lingkungan istana dan pengetahuan yang diberikan oleh nenek moyang sebagai wujud jagad kecil MN VI. Yang mencolok dari jagad kecil tersebut tentu saja adalah Mangkunegara IV.

Di bidang ekonomi, Mangkunegaran mempelopori penggunaan sistem perekonomian modern. Hal itu dimulai oleh Mangkunegara IV. Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana yang umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja (Historia, 2019).

Tanah-tanah yang semula dimiliki oleh kaum bangsawan diganti rugi oleh MN IV. Sehingga resmi menjadi milik praja. Kemudian para bangsawan digaji oleh MN IV. Tanah-tanah yang telah kembali itu, oleh Mangkunegara IV lalu digunakan untuk pertanian dan perkebunan secara modern seperti yang dilakukan pemerintah kolonial atau perusahaan swasta Eropa. Selain perkebunan kopi dan tebu yang jadi andalan, tanah-tanah itu digunakan untuk penanaman padi boga, kina, kapas, tembakau, dan lain sebagainya.

Pabrik Gula Tasikmadu

Mangkunegaran juga mendirikan pabrik gula modern, yakni Colomadu (1861) dan Tasikmadu (1871). Untuk mendukung perniagaan itu, Mangkunegara IV memprakarsai pembangunan Stasiun kereta api Balapan sebagai bagian dari jalur kereta api Solo-Semarang. Pada bidang pembangunan lainnya, beliau memprakasai kanalisasi di Surakarta. Pipa-pipa air bersih, dan limbah cair peninggalan beliau masih digunakan hingga kini. Juga pioner tata ruang kota di wilayahnya.

Bukan hal baru bagi Mangkunegaran memadukan nilai-nilai tradisional Jawa dengan Barat. Perpaduan itu terjadi baik dalam segi fisik bangunan-bangunan di keraton maupun dalam etiket dan nilai-nilai lain yang abstrak.

Pada etika Jawa, beliau menciptakan Wedhatama dan Tripama yang termasyur tersebut. Apa yang dicapai oleh MN IV tersebut menahbiskan kalau puncak kejayaan Mangkunegaran adalah pada periode beliau.
Hal ini tentu saja tidak luput dari jagad besar dan kecil beliau. MN IV mengikuti tiga arahan dari Pangeran Sambernyawa dalam melakukan kerja administrasi. Ketiga hal itu adalah Winasis, Arta, dan Wirya.

Winasis memiliki arti pandai sehingga dalam mencari winasis ini kita dituntut menjadi orang yang berilmu. Ilmu disini bisa kita dapatkan dimana saja dan kapan saja apalagi di abad 21 ini kita sangat mudah mencari ilmu. Mencintai ilmu membuat kita memiliki pemikiran terbuka dan kritis. Dari ilmu inilah yang menjadi pondasi kita dalam menjalani hidup.

Arta memiliki arti modal. Harta disini dimaksudkan sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan. Harta ini hanya bisa kita dapatkan ketika kita menjadi orang berilmu dan bekerja keras. Harta harus kita miliki sebagai modal kebudayaan, sosial dan material.

Sedangkan Wirya memiliki arti kekuasaan. Apabila kita sudah memiliki ilmu dan alat bantu berupa harta maka kita akan lebih mudah memiliki kekuasaan. Kekuasaan di sini bisa diartikan sebagai kepala, jabatan, dan amanah untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, makmur, sejahtera.

Winasis, Arta, dan Wirya mirip-mirip dengan konsep Habitus, Capital, dan Arena milik Pierre Bourdieu, filsuf dari Prancis yang hidup pada abad ke-20.

Mangkunegara VII the Last Royal in Surakarta

Zaman yang terus berubah membuat ukuran-ukuran kejayaan sebuah rezim turut berganti. Bagi John Pemberton, antropolog dari Cornell University, menganggap periode Mangkunegara VII termasuk dalam era keemasan dari Pura Mangkunegara. Bagi John Pemberton, MN VII adalah Last Royal of Surakarta. Seperti para pendahulunya, MN VII mengambil kebaikan-kebaikan pada dunia ini serta meninggalkan keburukannya. Diolah. Dikelola. Untuk kemudian dikembalikan ke rakyatnya hanya kebaikan saja.

Mangkunegara VII adalah putra dari MN V. Ia diasuh oleh MN VI sekaligus pamannya. Sang paman ini entah mengapa pada mulanya tak menyukai pendidikan barat. Bahkan MN VII disuruh untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. MN VII menaati perintah sang paman. MN VII memilih untuk berkelana dan menjalani hidup di luar istana. Menjadi penerjemah bahasa Belanda-Jawa dan mantri di tingkat kabupaten. Sedangkan kecintaannya terhadap budaya Jawa ditunjukkan melalui peranannya yang aktif dalam mendirikan lembaga studi Cultuur-Wijsgeerige Studiekring (Lingkar Studi Filosofi-Budaya) dan lembaga kebudayaan Jawa Java-Instituut. Kelak ia menelurkan karya ilmiahnya tentang simbolisme wayang Over de wajang-koelit (poerwa) in het algemeen en over de daarin voorkomende symbolische en mystieke elementen (1920) (Historia, 2019).

Tidak ada catatan sejarah yang pasti mengapa MN VI seperti tidak menyukai pendidikan model Belanda. Tidak ada pula catatan sejarah mengenai mengapa pada akhirnya MN VI membangun sekolah-sekolah. Pada dekade awal 1900-an, Mangkunegara VI membangun sekolah berbahasa pengantar bahasa Belanda untuk pendidikan dasar. Pada 1912, sekolah itu dijadikan Sekolah Nomor Satu (sekolah angka siji). Dua tahun kemudian sekolah itu diubah menjadi Holand Indlandsche School (HIS) dan diberi nama HIS Siswa atau populer dengan Mangkunegaran School. Para muridnya terutama merupakan anak pegawai praja dan prajurit Legiun Mangkunegaran.

Pada 1912 itu pula Mangkunegara VI membentuk Studie fonds. Dana pendidikan ini diberikan sebagai beasiswa kepada para anak kerabat atau narapraja (pegawai) Mangkunegaran yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi tapi tidak mampu secara ekonomi. Mereka wajib mengganti biaya studi itu dengan cara mengangsur kelak ketika sudah bekerja.

Guna mengakomodasi animo belajar para gadis, di tahun 1912 juga Mangkunegaran membangun Siswa Rini. Sekolah ongko loro yang bertempat di halaman istana itu merupakan sekolah putri berbahasa pengantar bahasa Jawa. Semasa kekuasaan Mangkunegara VII, sekolah ini ditingkatkan mutunya dengan menambahkan pelajaran bahasa Belanda.

Mangkunegara VII kemudian menutup Siswa Rini pada 1923 dan menggantinya dengan Huishoud Cursus Siswa Rini, yang pada 1939 kembali berubah menjadi Sekolah Kerumahtanggaan.

Akhir tahun 1912 MN VII berangkat ke Belanda untuk belajar. Namun ia hanya sempat mengenyam pendidikan di Universitas Leiden di Belanda selama tiga tahun, sebelum pulang ke Indonesia untuk menggantikan pamannya, Mangkunegara VI yang mengundurkan diri tahun 1916.

Program pendidikan dari pamannya, ia lanjutkan. Selain membuatkan gedung baru buat HIS Siswo, Mangkunegara VII juga mendirikan sekolah baru di Wonogiri. Dia juga memberi bantuan dana untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta dan membiayai operasional tahunan. Namun, sekolah-sekolah itu masih terbatas untuk anak-anak kerabat dan pegawai keraton. Untuk memberi pendidikan bagi rakyat kebanyakan, Mangkunegara VII mendirikan Sekolah Desa.

Jumlah Sekolah Desa Mangkunegaran terus berkembang, dari 19 sekolah pada 1918 menjadi 82 sekolah pada 1931. Jumlah itu kembali bertambah karena dari 1933 sampai 1935, pemerintah kolonial Hindia Belanda menyerahkan 22 pengelolaan Sekolah Desanya kepada Mangkunegaran. Seiring bertambahnya jumlah sekolah, jumlah murid pun terus meningkat.

Pada 1918, jumlah murid di Sekolah Desa Mangkunegaran hanya 1000 orang lebih. Pada 1930, jumlah murid telah mencapai hampir 7000 siswa.

Guna mendukung pembangunan pendidikan, Mangkunegara VII membangun perpustakaan baru, Sana Pustaka. Perpustakaan ini diperuntukkan untuk umum, berbeda dari Reksa Pustaka yang hanya untuk kalangan kerabat dan narapraja Mangkunegaran. Mangkunegara VII menunjuk ahli hukum cum sastrawan Mr. Noto Soeroto, rekannya semasa kuliah di Belanda, sebagai pengelola Sana Pustaka. Selain memiliki koleksi buku, Sana Pustaka memiliki koleksi koran dan majalah. Jumlah koleksi buku miliki perpustakaan pada 1936 mencapai 1727 buku berbahasa Belanda, 300 buku berbahasa Melayu, 300 buku berbahasa Sunda, 193 buku berbahasa Jawa, dan hampir 500 buku lain.

Selain di bidang pendidikan, MN VII juga melanjutkan beberapa program dari pamannya. Penghapusan laku dhodhok dan upacara yang rumit oleh MN VI dilanjutkan oleh MN VII. Mangkunegara VI memperbarui pakaian kebesaran putra sentana dan abdi dalem narapraja. Pakaian kebesaran yang terdiri dari kampuh, dodot, kuluk, udet, wedung, kain penutup dada, dan perhiasan disederhanakan dengan cara mengganti kampuh dengan bebet yang berwarna mirip kampuh. Kampuh dianggapnya boros kain dan waktu pemakaian. Untuk alasan praktis itu pula kuluk dihilangkan –namun tanpa pengganti– dari daftar pakaian kebesaran. Sementara, udeng (tutup kepala) diganti dengan iket agar para priayi bisa langsung menggunakannya tanpa perlu repot membuatnya terlebih dulu.

Aturan tersebut disempurnakan lagi oleh Mangkunegara VII, pengganti Mangkunegara VI. Mangkunegara VII bahkan membuatkan pakaian dinas masing-masing tingkatan anggota narapraja berikut aturan-aturannya. Dengan begitu, pakaian dinas priayi Mangkunegaran jadi lebih praktis dan efisien.

Di kemudian hari, penyederhanaan itu menjadi ciri Mangkunegaran. Mangkunegara sendiri mengenakan pakaian dinas berbeda saat berada di dalam atau di luar istana. Dalam acara-acara kenegaraan yang berhubungan dengan orang luar, ia lebih sering menggunakan pakaian militer. Penggunaan pakaian militer oleh Mangkunegaran ini memiliki makna politik. Dengan menggunakan pakaian militer, kedudukan Mangkunegaran sama dengan kedudukan Sunan sehingga boleh duduk sepadan dengan Sunan dan residen (Historia, 2019).

Pada hal ekonomi, diversifikasi, dan integrasi usaha dijalankan. Sebagai contoh adalah perkebunan tebu. Mangkunegaran mempunyai usaha dari hulu ke hilir. Mulai dari pembibitan hingga distribusi gula antar pulau. Sistem distribusi ini masih dipakai oleh orang-orang kaya yang berasal dari daerah perkebunan Matesih, Karanganyar. Revitalisasi pasar Legi oleh MN VII adalah upaya istana untuk secara serius memperhatikan dunia usaha kecil dan menengah.

Di dunia pergerakan, MN VII adalah tokoh di dalam organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo dan penasihat di organisasi pelajar Jong Java. Etnomusikolog asal Belanda Jaap Kunst, sahabat sekaligus partner diskusi Mangkunegara VII via surat, sampai memuji suasananya setelah dua kali mengunjunginya. Tapi yang paling sering mengunjunginya tentu para aktivis pergerakan nasionalisme seperti dokter Soetatmo Soerjokoesoemo atau dokter Tjipto Mangoenkoesoemo (Historia, 2019).

Mangkunegara VII aktif sebagai sponsor dari para cendikiawan. Salah satunya adalah Purbatjaraka. Purbatjaraka mempunyai banyak murid Muh. Yamin adalah salah satu murid beliau. MN VII dan rekan-rekan cendekiawannya mendisuksikan politik dan seni-budaya. Mangkunegara VII aktif menyuarakan pemikiran politiknya lewat Dharmo Kondo. Saat pemerintah pusat di Batavia hendak membuat Kongres Bahasa Jawa dan menunjuk Mangkunegara VII sebagai ketua panitia, yang bersangkutan justru lebih antusias mendiskusikan perlunya diadakan kongres tentang kebudayaan.

Sebagai kelanjutan dari kongres, dengan bantuan dari Samuel Koppeberg, dibentuklah Java Instituut pada 1919. Mangkunegara VII didapuk menjadi ketua kehormatannya. Lembaga ini kemudian mengadakan konferensi pada 1921 yang di dalamnya memuat lomba pembuatan sistem notasi untuk musik di Jawa.

Pada tahun 1933, ia memprakarsai didirikannya radio pribumi pertama di Indonesia yaitu SRV (Solosche Radio Vereniging) yang memancarkan program-program dalam bahasa Jawa. “Pada tahun 1930, Mangkunegara VII memberikan pemancar kecil ke kunstkring (lingkaran seni) para aristokrat, yang menggunakannya untuk menyiarkan konser gamelan dari Mangkunegaran setiap 35 hari,” tulis Philip Yampolsky dalam “Music on Dutch East Indies Radio in 1938: Representations of Unity, Disunity, and the Modern”, dimuat di Sonic Modernities in the Malay World.

Solosche Radio Vereniging. Sumber : CNN

Saat blusukan, MN VII muda lebih suka secara incognito. Sesekali menumpang kereta api kelas III, MN VII muda lebih banyak berjalan kaki mengunjungi desa-desa. Dia makan sekadarnya, terkadang pemberian penduduk. Apabila tak beruntung mendapat tumpangan menginap di rumah kepala desa, MN VII muda menginap di rumah penduduk atau bahkan seringkali di pinggir jalan. Pengembaraan itu membuat Soeparto melihat langsung dan mengenali wilayah-wilayah yang disinggahinya berikut kondisi masyarakat di dalamnya. Dia merasakan perasaan sebagian besar masyarakat. Di Demak, MN VII muda menetap dan mendapat pekerjaan sebagai juru tulis, lalu mantri. Saat menjadi mantri itulah Soeparto mengetahui kondisi kesehatan masyarakat.

Kelak, pengalaman di Demak ini akan membuahkan sebuah bangunan yang luar biasa di daerah Ketelan, Solo. Bangunan tersebut bernama Ponten. Tempat penduduk pribumi melakukan mandi, cuci, dan kakus. Penduduk tidak perlu melakukan di sungai lagi. Sistem pengelolaan limbah cair sejak dini mulai tergagas oleh MN VII. Sungai bukanlah tempat membuang limbah secara serampangan. Pengelolaan sungai menjadi salah satu prioritas dari MN VII. Di hulu, MN VII juga sangat memperhatikan sungai demi kepentingan pertanian rakyatnya.

Untuk memperbaiki pertanian rakyatnya, Mangkunegara VII dan Ir. Sedyatmo membangun jembatan air. Sukses meski ditentang Belanda. Pembangunan jembatan air terjadi di Sungai Wiroko, Wonogiri pada 1936. Untuk itu, dia menugaskan Insinyur Sedyatmo (kelak menjadi penemu fondasi cakar ayam), kerabat Mangkunegaran yang baru dua tahun lulus dari Technische Hooge School (THS, kini Institut Teknologi Bandung). “Mangkunegoro VII menyerahkan sepenuhnya pembangunan jembatan air tersebut demi kepentingan petani di Desa Wiroko dan sekitarnya. Mangkunegoro VII hanya mengharapkan terwujudnya jembatan air itu sehingga Sungai Wiroko akan dapat berguna bagi para petani dalam menggarap tanah mereka,” tulis Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan dalam Prof. Dr. Ir. Sedyatmo: Intuisi Mencetus Daya Cipta.

Namun ketika pembangunan baru berjalan separuh, Mangkunegara VII mendapat surat dari Insinyur Valkenburg, kepala Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Sang pejabat minta jembatan itu dibongkar karena pembangunannya menggunakan rumus-rumus yang menyimpang dari rumus-rumus yang berlaku di seluruh dunia dan diajarkan di kampus-kampus. Mangkunegara VII lalu meminta patihnya, Ir. Sarsito Mangunkusumo, memberikan surat teguran itu kepada Sedyatmo (Historia, 2019).

Sedyatmo memutuskan untuk tetap melanjutkan pembangunan Jembatan Wiroko. Lewat keputusan itu dia ingin mengaplikasikan teori yang dikembangkannya dan membuktikan teori itu lebih jitu ketimbang teori-teori dari buku-buku kampus yang digunakan para insinyur Belanda. Keputusan itu membuat pemerintah kolonial kembali menegur. Kali ini lewat surat rektor THS Profesor Sprenger. Sang rektor meminta jembatan itu dibongkar karena diprediksi tak akan tahan lama. “Jembatan itu akan cepat jebol dan jebolnya jembatan itu nantinya akan menjatuhkan nama baik THS, sebab Sedyatmo adalah mantan mahasiswa sekolah tinggi Bandung.”

Baik Sedyatmo maupun Mangkunegara VII sama-sama bergeming terhadap teguran itu. Sedyatmo pun merasa didukung sang raja sehingga semakin semangat menyelesaikan pembangunan jembatan itu. Pada 1937, pembangunan jembatan itu berhasil dirampungkan Sedyatmo.

Epilog Hanyalah Salah Satu dari Stasi

Orang Jawa tidak mempunyai filsafat, yang ia punyai adalah etika. Demikian ujar romo Franz Magnis Suseno. Tak mengapa. Kelak, yakin, akan ada filsuf-filsuf kelahiran dari Indonesia. Sementara itu, kita cukup menggunakan etika terlebih dahulu dalam melakukan kebaikan untuk bangsa. Atau menggunakan pisau analisa filsafat yang diasah oleh etika Jawa. Sebagai contoh adalah tiga Winasis, Arta, dan Wirya yang dilahirkan oleh Pangeran Sambernyawa.

Ketiga hal tersebut dipakai untuk mempermudah orang Jawa dalam mempraktikan Habitus, Capital, dan Arena dari buah pemikiran filsuf Pierre Bourdieu. Contoh pendek adalah saat bangsa ini menghadapi pandemi SARS-Cov-2. Praktik etika di atas dapat dijalankan dengan langkah pertama adalah mengubah habitus. Seperti terminologi 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak. Lalu membangun monumen-monumen peringatan. Agar bangsa ini tidak mudah lupa akan suatu kejadian. Memberikan bantuan tunai adalah langkah selanjutnya yang masuk dalam Capital.

Berikut di bawah adalah pointers dari tulisan di atas agar kita lebih mudah dalam menjadikan Mangkunegaran contoh baik untuk menjadi negarawan. Pointers berlaku secara acak tidak runut dalam lini masa pemerintahan para raja di Pura Mangkunegaran. Pointers juga acak secara prioritas.

  • Blusukan secara incognito. Blusukan secara kekinian dapat dilakukan menggunakan media sosial. Menggunakan akun-akun alter. Arus informasi dapat menggunakan dark social semacam Telegram. Kunci utama adalah mendengarkan dan melihat. Lalu melakukan cek dan ricek. Diskusikan dengan tim yang terkait isu.
  • Mengumpulkan cendikiawan tanpa ambisi dan operator lapangan. MN VII dikelilingi oleh para cendikiawan yang ia sponsori. Cendikiawan tanpa ambisi kekuasaan yang bekerja tulus demi kebaikan bangsa dan orang banyak. MN VII mau mendengarkan mereka. Para cendikiawan merasa didukung oleh kekuasaan.
  • Gunakan etika Jawa dalam membuat kebijakan. Sedyatmoko kukuh mempertahankan teorinya. Walau bertentangan dengan mahzab Barat, kontur tanah dan air di Wonogiri. Perilaku pengguna jembatan yang masyarakat Jawa, Sedyatmoko paham akan hal itu. MN VII memahami Sedyatmoko dan akhirnya mengikuti teori yang dikeluarkan oleh Sedyatmoko.
  • Pendekatan Reformasi bukan Radikal. Masyarakat Jawa, khususnya Solo, tipikal mudah menerima masukan apapun bentuknya. Namun mereka juga tidak mau menelan masukan itu utuh-utuh. Hanya separo dari masukan itu yang ditelan. Separonya lagi mereka ganti dengan produk yang menurut mereka baik. MN VI radikal dalam menjalankan kekuasaan. Yang didapat adalah resistensi. MN VI kemudian lengser.
  • Pembangunan berkelanjutan. Apa yang dilakukan oleh MN IV adalah pembangunan yang jauh memikirkan nasib rakyatnya hingga ke masa depan. Titik lemah yang dilakukan MN V hingga VII adalah tidak komperhensif dalam melakukan kelanjutan. Orang menjadi lupa. Orang menjadi lena. Saat dihantam wabah dan resesi, apa yang dibangun oleh MN IV menjadi abu. Biaya untuk membangun lagi ditebus dengan mahal oleh MN VI, ia harus lengser walau praja menjadi rejo lagi. Andai mereka menggunakan pendekatan reformis dalam menafsirkan Winasis, Arta, dan Wirya, cerita akan berjalan lain.
  • Pendidikan. Apa yang dilakukan oleh MN VI dan VII dalam bidang pendidikan sudah sesuai dengan kaidah pedagogi. Individu itu unik. Maka membutuhkan pendidikan yang unik sesuai dengan kemampuan individu tadi. Meninggalkan apa yang memang tidak diminati dan dikuasai oleh individu. Mempelajari dengan tekun apa yang diminati dan dikuasai oleh individu tersebut. Contoh kekinian, individu yang paham bahasa Belanda akan tersedia bidang ilmu Hukum, dan Sejarah. Tergantung individu tersebut masuk dan mendalami ilmu Hukum atau Sejarah.
  • Ekonomi. Apa yang dilakukan oleh MN IV, MN VI dan VII menunjukan bahwa efek menetes tidak jalan di masyarakat Jawa dalam lingkup yang lebih luas. Perkebunan dan perusahaan listrik hanya menetes bagi masyarakat setempat atau lingkup yang kecil. Maka nasib rakyat kecil di tempat terpencil tetap harus diperhatikan oleh negara. MN VII merevitalisasi pasar Legi. Kekinian, UMKM harus diperhatikan betul oleh pemimpin. Tanpa meninggalkan etika Jawa.
  • Infrastruktur. Arthur Walcott saat mengunjungi Solo pada tahun 1912 merasakan kota ini tidak semenarik Yogya. Tidak ada gedung yang khas. Tidak ada monumen dan kompleks pemakaman yang megah. Maka, MN VI dan VII mulai membangun. Jembatan, jalan, kanal air, stasiun, rel kereta api, pasar, sekolah, pabrik-pabrik dibangun. Semua menggunakan arsitektur campuran antara Barat dan Jawa. Dan dibangun dengan sistem otentik pemikiran anak bangsa.
  • Agama. MN VII membangun masjid Wustho sekaligus memindahkan Kauman. Dahulu letak Kauman Mangkunegaran adalah di sebelah utara Pura. Hal ini ternyata kurang begitu baik bagi perkembangan agama Islam. Pendidikan keagamaan Islam didominasi oleh pihak Kasunanan. Namun untuk perkembangan agama di luar Islam mendapat ruang di daerah kekuasaan Mangkunegaran. Hal ini perlu telaah, dan studi lebih lanjut. Karena isu agama sering dimainkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai keberagaman.
  • Kebudayaan. Dari sisi kebudayaan, apa yang ditunjukan oleh fragmen di atas sudah cukup jelas. Kebudayaan Jawa memegang peran sangat penting dalam kekuasaan. Inti kebudayaan tentu saja adalah kesenian dengan rupa-rupa bentuk serta maknanya. Seorang pemimpin harus bisa menunjukan kebolehannya dalam dunia kesenian dan sastra.
  • Sosial masyarakat. Yang perlu dicermati adalah sebenarnya tidak ada etos kerja sama dalam semangat gotong royong. Tiji Tibeh adalah salah satu usaha untuk memasukan unsur kerja sama dalam gotong royong. Usaha tersebut dilakukan terus menerus dengan menggunakan Winasis, Arta, dan Wirya.
  • Tata kelola pemerintahan. Tripama adalah bentuk sastra yang mengajarkan tentang kekuasaan. Kekinian, nilai-nilai yang terkandung dalam Tripama perlu dielaborasi dengan demokrasi Barat. Hal pertama yang dilakukan adalah mendengarkan para cendikiawan. Kemudian dilaksanakan sesuai dengan kepentingan rakyat banyak.
  • Kesehatan. Pembangunan Ponten adalah fokus dari MN VII terhadap kesehatan masyarakat. Pelestarian Ponten bisa digunakan sebagai monumen. Pengingat bahwa dulu pernah ada wabah kolera dan pes. Hal yang sama bisa dilakukan pada Covid-19 ini, membangun monumen. Setelah itu, sistem kesehatan perlahan dibenahi. Sesuai dengan etika Jawa. Hal ini perlu studi lebih lanjut karena kesehatan di masyarakat Jawa begitu ambigu. Mengingat bagaimana joroknya masyarakat Jawa jika ditilik dari tinjauan pustaka sejarah. Namun juga bagaimana masyarakat Jawa hidup bersih saat sungai belum tercemar.
  • Efisiensi anggaran. Pemotongan budget serta alokasi yang tepat menjadi perhatian utama dari fragmen di atas. Hal-hal yang sekiranya radikal dilakukan dengan jalan reformasi. Menghindari resistensi. Alokasi yang tepat lebih digemari bagi masyarakat umum. Pameo “kolam yang terlalu bersih akan membunuh ikan. Kolam yang terlalu kotor juga akan membunuh ikan” masih berlaku di sini.

Demikian fragmen dari Mangkunegaran. Epilog ini hanyalah stasi. Karena harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tidak monolith. Namun dinamis. Mampu menyerap yang baik lalu disesuaikan dengan kondisi masyarakat Jawa.

Penulis : Kuat Hermawan Santoso

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

One thought on “Manusia Jawa dan Eropa; Sebuah Eksposisi pada Fragmen Mangkunegaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *