Yuk Belajar Politik dari Filosofi Raksasa Jawa

Oleh Hendro

Bagi orang Jawa khususnya Soloraya, berbicara mengenai dunia perwayangan seperti tidak ada habisnya. Wayang menjadi benar-benar bayangan dari kehidupan masyarakat Soloraya. Tidak ada karakter yang 100 persen hitam dalam pewayangan, begitu juga sebaliknya. Karakter-karakter raksasa (buto) kebanyakan menyimbolkan entitas yang jahat dan negatif. Namun ada juga karakter-karakter raksasa yang baik hati.

Dari beberapa karakter raksasa yang baik, salah satunya kita mengenal Kumbakarna pada epos Ramayana. Pada raksasa sebesar gunung tersebut tersemat citra yang positif. Pengupasan semiotika terhadap tokoh tersebut mengungkapkan nilai nasionalisme. Bahwa Kumbakarna menerima mandat sebagai panglima perang, dilandasi kecintaannya kepada rakyat dan negeri Alengka. Kumbakarna memerangi pasukan Rama tanpa rasa benci dan marah di dalam dada.

Pada epos Mahabharata versi Jawa, kita mengenal sosok raksasa bernama Resi Bagaspati. Melihat namanya, kita paham ia berkasta Brahmana. Berwajah dan berperawakan raksasa merah. Namun mempunyai anak berwujud manusia dan berparas cantik, Dewi Setyawati namanya. Kelak, Dewi Setyawati akan dipersunting oleh Prabu Salya, raja dari Mandaraka. Dalam cerita pewayangan Mahabharata versi Jawa, hanya ada dua tokoh yang memiliki darah berwarna putih. Darah putih adalah simbol dari kejujuran dan kesetiaan. Dua tokoh itu adalah Yudistira dan Resi Bagaspati.

Dalam lini masa perwayangan Jawa dikenal adanya Wayang Purwa. Yaitu, kurun waktu yang bercerita tentang proses penciptaan dunia wayang. Pun pada wayang purwa ada karakter raksasa yang baik. Mereka adalah kembar Balaupata dan Cingkarabala. Mereka bahkan tergolong dalam jajaran dewata. Ayah mereka adalah Andini, wahana dari Bhatara Guru. Tugas mereka adalah menjaga pintu gerbang kerajaan langit, Suralaya. Agar mereka yang berniat jahat tidak mampu masuk ke Suralaya. Jika anda mengunjungi kota Solo, akan sering ditemui dua tokoh ini dalam wujud arca. Fungsinya sebagai peringatan. Bahwa yang berniat jahat tidak boleh masuk ke daerah yang ada arca Balaupata dan Cingkarabala. Yang terkenal ada di seputaran daerah Gladak. Kita mengenalnya dengan Reco Gladak.

Arca (Reco) Gladak, Surakarta

Wayang mengajarkan pada kita, masyarakat Soloraya, agar tidak hitam atau putih dalam memandang tiap aspek kehidupan. Hidup itu penuh warna. Begitu pun saat masyarakat Solo memandang politik. Politik tidak hitam atau putih, tapi penuh warna. Politik kader misalnya, masyarakat akan memandang entitas tersebut dengan penuh warna. Sistem politik kader yang diinisiasi oleh Lenin, kelak melahirkan dua tokoh yang saling berperang. Yang pertama adalah Stalin dari pihak Rusia, yang kedua bernama Adolf Hitler dari Jerman. Keduanya sama-sama diktator. Mereka lalu mengembangkan sistem politik tersendiri.

Namun, masyarakat Soloraya tidak serta merta menolak politik kader. Mereka sanggup memilah mana yang baik dan yang harus ditanggalkan. Pada tingkatan nasional, beberapa parpol juga mengembangkan sistem politik kadernya masing-masing. Disesuaikan dengan perundangan dan situasi geopolitik Indonesia. Tinggal motivasi apa saja saat memandang politik kader tersebut. Begitu juga saat orang ramai membicarakan politik dinasti.

Orang Solo akan memandang politik dinasti dengan penuh warna. Tidak hitam atau putih. Disesuaikan dengan situasi geopolitik Solo dan nasional. Di mana mereka yang mampu beradaptasi secara cepat dengan perkembangan zaman akan bertahan. Yang buruk-buruk pada politik dinasti akan ditinggalkan oleh masyarakat Solo. Yang baik-baik akan terus dipakai, digunakan untuk kepentingan lebih luas. Mau pakai cara politik kader atau dinasti, yang terpenting adalah luaran untuk rakyat haruslah positif. Contoh luaran yang positif semisal angka korupsi jadi mengecil atau pendidikan dan kesehatan yang terjamin bagi rakyat. Maka masyarakat bawah di kota Solo pun heran dengan narasi politik dinasti tersebut. Narasi yang diambil hanya yang buruk saja. Seolah-olah masyarakat Solo tidak punya kemampuan dalam memilah yang baik dan buruk. Seolah-olah masyarakat Solo tidak bisa berpartisipasi aktif dalam politik. Bagi kami yang mengalami sendiri, akan sanggup memilah mana yang baik dan buruk. Terima kasih atas perhatian masyarakat luar Soloraya. Jangan takut, kami mampu memilah dan tetap akan memilih pemimpin yang sesuai dengan kondisi kami.

Hendro Prabowo

Relawan Koncone Gibran

Penduduk Bumi yang tinggal di Laweyan, Kota Solo.

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *