Pengenalan Politik Sejak Dini

Oleh Hendro Prabowo.

Membaca kembali buku-buku lama itu menyenangkan. Pada buku tersebut ada penanda zaman. Entah gaya bahasa, tata letak, jenis huruf, atau desain sampul. Buku kali ini yang menarik minat saya berjudul “Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku” oleh Guntur Soekarno, sulung dari Presiden Soekarno. Tidak ada tahun terbit pada buku tersebut. Hanya perkiraan berdasarkan izin yang dikeluarkan untuk buku itu, “Izin : No. Pol : B/419/VII/77/Bintib”. Begitu saja, hingga perkiraan jatuh pada tahun 1977.

Secara garis besar, buku tersebut bercerita tentang kedekatan seorang anak dengan bapaknya. Tentang peran seorang Soekarno sebagai bapak, kawan, dan guru bagi Guntur. Periodesiasi buku tersebut antara tahun 1954 sampai 1964. Berarti mengisahkan kehidupan keluarga batih Presiden Soekarno saat usia Guntur 10 hingga 20 tahun. Jika merujuk pada tahun 1977, maka usia Guntur saat menulis buku itu adalah 33 tahun.

Yang menarik dari buku tersebut adalah bagaimana secara halus, Guntur tengah menceritakan pembelajaran politik yang ia terima langsung dari Soekarno. Bahwa ia adalah anak ideologis dan biologis dari Soekarno. Kita tahu pada rezim Orde Baru, mempelajari apa yang diajarkan oleh presiden Soekarno adalah hal yang berbahaya. Berserikat, berkumpul, dan berpendapat di luar narasi yang dijalankan oleh pemerintah Orde Baru adalah hal yang tabu.  Dengan mengeluarkan buku tersebut, Guntur tengah bermanuver dengan cerdas dalam berpolitik.

Tidak boleh berpolitik dalam darah keturunan Soekarno tentu sulit sekali. Saya ambilkan dua contoh dalam buku di atas. Yang pertama ber-sub judul “Tipuan Diplomat”. Cerita tersebut mengambil lini masa tahun 1961. Saat itu sedang berlangsung Konferensi Non Blok di Hotel Metropole, Beograd, Yugoslavia. Guntur dan Megawati termasuk dalam rombongan kepresidenan. Sudah jamak jika tuan rumah menjamu tamunya. Yang tidak lazim bagi perut orang Indonesia adalah makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah.

Makanan-makanan barat tersebut ternyata tidak cocok dengan selera dan perut rombongan kepresidenan Indonesia. Kemudian Guntur sambat kepada ayahnya untuk tidak menghadiri jamuan tersebut. Oleh Presiden Soekarno, Guntur tetap harus berangkat. Apapun kondisinya. Lalu Guntur diajari untuk suatu cara agar bisa mengikuti prosesi jamuan dengan nyaman. Singkat cerita jamuan terlaksana. Dari rombongan Indonesia tampak Guntur, Mega. Dan nyonya Kolonel Sugito. Nyonya Kolonel Sugito ikut hadir sebagai chaperon dari Guntur dan Mega.

Maka jamuan agung pun dimulai. Pada saat pertengahan jamuan, wajah-wajah dari Mega dan nyonya Sugito sudah mulai pucat dan berkeringat menahan mual. Hanya Guntur seorang yang tampak sumringah dan lahap menyantap makanan tersebut. Saat selesai perjamuan, nyonya Sugito dan Mega menghampiri Guntur di kamarnya. Menuntut Guntur berbagi rahasia kepada mereka berdua. Rahasianya adalah sebenarnya Guntur tidak sungguh-sungguh memakan santapan. Hanya dikunyah lalu dimuntahkan sambil berlagak mengelap mulut dengan serbet. Kemudian serbet dibuang ke bawah meja.

Cerita kedua mengambil sub-judul “Bung Karno Kontra C.I.A”. Pada tahun 1964, Megawati bercerita kepada Guntur mengenai perkembangan kondisi istana. Megawati bercerita bahwa saat itu ada mahasiswi dari Amerika Serikat tengah berlatih menari di lingkungan istana. Wajahnya cantik seperti bintang film Suzanne Pleshete (sayapun lalu browsing, dan ternyata cantik betul).

Singkat kata, mahasiswi dari Amerika Serikat tersebut ternyata adalah anggota CIA, lembaga intelijen negara paman Sam. Soekarno mengetahui hal tersebut dari Ayub Khan, Presiden Pakistan saat itu. Ternyata, tak hanya Ayub Khan saja yang memberitahu perihal tersebut. Ada pihak lain, yaitu Lord Bertrand Russel, seorang ahli filsafat, dan pejuang kedamaian dari Inggris. Megawati sendiri menyaksikan memo yang diberikan Lord Bertrand Russel tersebut kepada Soekarno. Selain menyangkut perihal mata-mata tadi, memo tersebut menyebutkan bahwa Soekarno tergolong dalam “8 kepala negara yang masuk dalam daftar hitam CIA”.

Menarik bukan? Ibu Megawati saat membaca memo sepenting itu baru berusia 17 tahun. Pengenalan politik yang dini dari Soekarno tersebut, kelak sangat berguna bagi kehidupan Guntur dan Megawati. Yang muda belum tentu tidak mempunyai pengalaman dalam berpolitik. Kita tidak tahu cerita di belakang setiap tokoh sebenarnya seperti apa. Sama dengan saya. Sebelum membaca buku di atas, saya memandang orang muda tidak berpengalaman dalam politik.

Penulis : Hendro Prabowo – Penduduk Bumi, Laweyan, Solo

Punya gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisan anda ke e-mail relawan@konconegibran.com atau melalui grup Whatsapp untuk ditayangkan di website ini. Tunjukkan dukungan anda untuk Gibran Solo 1!

One thought on “Pengenalan Politik Sejak Dini

  1. Wah tulisannya sungguh menarik. Betul juga ya, sebagai anak dari Politikus, Bu Mega tentu juga akrab dgn politik sedari remaja. Politik bukan hal tabu utk dipelajari, bahkan bagi pemuda. Justru pemuda harus mulai belajar politik. Terima kasih, atas tulisannya Mas Hendro 😊🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *