Haruskah Solo Dipimpin Anak Muda?

Oleh Ginanjar Rahmawan

Media masa mulai ramai diisi oleh berita mengenai bursa nama calon walikota Solo 2020. Nama Gibran menjadi nama paling popular di media masa, baik lokal bahkan nasional. Hal ini dipicu oleh survey yang diadakan Universitas Slamet Riyadi Solo tentang calon walikota Solo 2020. Nama Gibran menjadi yang teratas, disusul oleh Walikota aktif saat ini, Ahmad Purnomo dalam hal popularitas di survey yang dibuat oleh Laboratorium Kebijakan Publik Unisri ini. Bahkan nama anak ke-2 Jokowi, Kaesang, juga masuk dalam survey tersebut di peringkat ke-3.

Baca juga artikel dari detik.com : Gibran dan Kaesang Jadi Nominator Wali Kota Solo di Survei Unisri

Senada dengan survey dari Unisri tersebut, saya juga membuat survey ringan mengenai Sosok Walikota yang diidamkan oleh warga kota solo. Survey tersebut diisi oleh paling banyak usia 26 sampai 45 tahun dimana menjadi usia calon pemilih paling banyak di Solo. 62% responden mau memilih calon walikota yang dari jalur independen. Hal ini memberikan ruang bagi calon non partai untuk berpeluang maju dalam pilkada Solo 2020. Masalah usia, 61% responden menginginkan calon walikota yang muda dengan umur dibawah 45 tahun.  Hal ini mungkin responden menganggap bahwa pemuda lebih berani dalam hal melakukan perubahan untuk kota Solo. Hasil survey ini nama Gibran pun menjadi yang teratas dengan 21,2% disusul oleh Ginda Ferachtriawan, politisi muda PDIP Solo dengan 11.8%, Ravik Karsidi, mantan Rektor UNS dengan 10,6%, Achmad Purnomo 9,4%, Samsul Hadi Ketua HIPMI Solo 8,2% dan beberapa nama anak muda lainnya seperti Bambang Nugroho KNPI Solo, dan Andi Wibowo.

Di Facebook, aktivis social media seperti mas Guntur Wahyu Nugroho mencoba untuk melambungkan isu calon walikota muda kota Solo 2020 dengan tagline “Muda Visioner”. Nama nama yang terjaring antara lain, Gibran, Evandra politisi muda Golkar, Septiana, M. Bilal ketua PSI Solo, Ginda Ferachtriawan, Antonius Yoga PSI, Diah Warih, Her Suprabu, Respati Ardi, Arya Sulendra Rektor Muda UNSA, dan lain-lain. Di halaman Facebook mas Guntur banyak sambutan positif mengenai isu pemimpin muda ini, Tokoh Senior Solo seperti Pak Slamet Rahardjo juga menyatakan dukungannya pada Gibran jika hendak maju sebagai calon walikota Solo.

Tren Pemimpin Muda

Tiga survey tersebut seakan mengkonfirmasi adanya tren pemimpin muda untuk suatu pemerintahan yang kekinian. Sebut saja Syed Shaddiq, mentri termuda di Malaysia, diangkat menjadi Menteri pemuda dan olah raga di usia yang sangat-sangat belia, 26 tahun. Dia diangkat sebagai mentri setelah menjabat sebagai wakil rakyat di parlemen Malaysia. Malaysia juga punya Yeo Bee Yin,mentri bidang tenaga, teknologi sain yang berusia 26 tahun. Sebastian Kurz menjadi kepala pemerintahan di Austria saat usia 31 tahun, Shamma Al Mazrui diangkat Menteri Pemuda Uni Emirat Arab saat berusia 22 tahun, Yuko Obuchi 34 tahun, Schroader 33 tahun, dan presiden termuda Perancis, Macron diangkat saat berusia 39 tahun.

Presiden Jokowi nge-Vlog bersama Syed Shaddiq, menteri termuda di Malaysia.

Tren tersebut juga terjadi di Indonesia. Muhammad Syahrial dinobatkan sebagai Walikota termuda di Indonesia, yaitu saat berusia 26 tahun. Tak tanggung-tanggung, Syahrial maju menjadi Walikota Tanjungbalai dengan perolehan suara 47,3% dari jalur Independen. Selain itu ada Sutan Riska Tuanku Kerajaan yang menjadi Bupati termuda di Indonesia yang dilantik menjadi Bupati Dharmaswaya, Sumatera Barat saat berusia 26 tahun. Emil Dardak yang saat ini menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur diusia 35 tahun, berhasil menduduki posisi Bupati Trenggalek saat berusia 32 tahun. Di DPRD Solo, banyak muncul wajah-wajah baru anak muda seperti Antonius Yoga, Dinar Retna 41 tahun, Tri Hono 34 tahun, Yudha Sindu 25 tahun, bahkan Agung Harsakti yang paling muda yaitu 23 tahun. Saat ini 33% dari Anggota DPRD Solo adalah anak muda.

Baca juga tulisan relawan kami : Gibran di Mata Solo

Mengapa harus pemuda?

Tercatat ada 422.841 daftar pemilih tetap (DPT) yang terdata di KPU Solo, dengan jumlah pemilih muda ada 40% dan yang paling banyak di usia 25-30 tahun, yaitu 82.061 pemilih. Usia tersebut adalah pemilih muda yang sudah permah memilih sebelumnya. Sedangkan di pemilih pemula, yaitu usia 17-20 tahun, ada sebanyak 35.671 pemilih. Apa implikasinya bagi pemimpin Solo nantinya?

Pertama, generasi muda ini tidak suka basa-basi, seremonial, dan formal. Anak muda cenderung menyukai pemimpin yang setipe dengan mereka. Naik motor, pake sepatu sneakers, suka music, pake kaos, pake celana jeans, suka ngevlog, aktif di instagram. Mereka cenderung tidak suka pemimpin yang kaku dan tidak kekinian. Coba kita lihat, bagaimana ngehitnya sepatu sneaker bikinan anak Bandung, yaitu NAH Project ketika dipake Jokowi. Suatu budaya baru di pemerintahan yang kekinian sekali. Anak muda suka itu, dan mereka akan mencari pemimpin yang mewakili kesukaan mereka. Industri kreatif semacam ini sangat dekat dengan anak muda.

Tonton juga video dari Kumparan : Kisah NAH Project, Sepatu asal Bandung yang Dipakai Jokowi

Kedua, generasi millennial ini adalah generasi yang sangat melek dunia digital. Mereka menggunakan media social untuk menyampaikan aspirasi mereka, untuk mengkritisi pembangunan, karena di dunia social media mereka merasa lebih bebas menyampaikan aspirasinya. Sebagai walikota harus menangkap aspirasi warga melalui social media juga. Harus menggunakan sosmed untuk berinteraksi berkomunikasi dengan warga, tidak secara pasif namun aktif. Membalas mention, membalas DM, dan segera berbuat sesuatu seketika setelah mendapat aduan dari sosmed. Contoh Ganjar Pranowo, yang sampai saat ini paling aktif membaca aspirasi warga di sosmed tanpa admin.

Ketiga, generasi ini juga merupakan generasi yang suka instan dan multitasking. Sebagai pemimpin kota, juga harus bias cepat perespon permintaan warga, harus segera ada action dan harus segera ada perubahannya. Hal ini butuh stamina dan energi yang luar biasa. Karena tidak mudah mengelola suatu kota dengan segala permasalahannya. Pasti sangat melelahkan. Juga pemimpin harus yang bisa multitasking, yang bisa nyambung diajak ngobrol tentang tata kota, tentang speak bola, tentang fashion, tentang kuliner, mungkin juga tentang lagu-lagu kekinian seperti lagunya Sobat Ambyar.

image source : okezone

Terakhir, generasi ini memiliki sifat yang suka tantangan dan lebih berani mengambil resiko. Dalam menghadapi permasalahan kotapun, seorang pemimpin kota harus berani membuat inovasi, terobosan, solusi dari permasalahan yang ada. Sudah tidak bisa lagi menggunakan cara lama, metode lama. Harus berani mengambil resiko dengan membuat lompatan ide yang lebih berani walau dirasa tidak masuk akalpun.

Sebagai kota yang memiliki berbagai permasalahan, tentunya Solo memerlukan seorang manajer yang mampu memberikan solusi dari permasalahan tersebut. Manajer Solo kedepan, diharapkan mampu mewakili generasi milenial atau anak muda. Permasalahan tata kota, lalu lintas, kemacetan, polusi udara, jalur pedestrian, penghijauan, sampah, dll sudah menunggu calon walikota yang akan datang. Mampukah anak muda menjawab tantangan ini? Nampaknya menarik jika kita undang anak-anak muda yang Namanya sudah muncul di media, untuk kita adu ide dan gagasannya untuk menghadapi masalah kota solo dengan gaya anak muda yang kekinian dan berani ambil resiko.

Salam Solo 2020!

___________________

Ginanjar Rahmawan, STIE Surakarta

Ingin menyampaikan gagasan & dukungan untuk Gibran? Kirimkan tulisanmu ke e-mail relawan@konconegibran.com disertai nama & foto. Tulisan akan dimuat di website konconegibran.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *